Translate

Kamis, Mei 02, 2013

Naskah Drama: Babad Tanah Minahasa.


judul Naskah Drama: Babad Tanah Minahasa.

Pemeran, berdasarkan pemunculan:
Narrator
Lumilumut
Karim A
Trotoar
Opo
Pemeran Pengganti

NARRATOR:
Ini adalah legenda rakyat yang diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut tentang kisah cinta abadi antara sepasang manusia.

Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

(Narrator berhenti sejenak)

Mohon maaf, saya salah membaca naskah.
Inilah naskah yang sebenarnya.

Di sebuah tanah asing, seorang putri terdampar setelah diusir dari kerajaannya. Ia ditolong oleh seorang laki-laki dan dirawat di rumahnya. Beberapa hari kemudian, putri itu akhirnya tersadar dari pingsannya.
Lumilumut membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.
Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih.

(Pintu kamar terbuka, Karim A masuk dengan tongkat di tangannya membawa semangkok obat. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana Lumilumut berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada Lumilumut.

Karim A:Ih.. apa ini eh... lombo-lombo...
(menusuk-nusuk dada Lumilumut dengan perlahan dan penasaran)
Lumilumut:Woi itu tanganku tau!(bangun dan duduk di kasur)

Karim A:(Terkejut dan mundur beberapa langkah)
Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar.

Lumilumut:Dimana ini?
Karim A:(Duduk di samping Lumilumut)
kita berada di rumah saya.(menyodorkan mangkok berisi obat kepada Lumilumut)
Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh

Lumilumut menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.

(GAYA DRAMA MURAHAN ON)

Karim A:Siapakah namamu wahai wanita?
Lumilumut:Namaku Lumilumut. Aku biasa dipanggil Lumut.

(GAYA DRAMA MURAHAN OFF)

Karim A:Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil...
(berdiri, menari berkeliling gaya opera)Karim A
Lumilumut:Anda seorang tabib?
Karim A:(Kembali duduk di kasur sambil mengelus-elus jenggotnya.)
(Gaya berpuisi sedih penuh perasaan)
Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .
Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati.
Lumilumut:(Menyemburkan obat di mulutnya)Pfffffffffffff!!!
Mangkok di tangan Lumilumut terlepas. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.
Karim A:(Gaya pidato)
Jangan khawatir! Sebab bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal.
Lumilumut:Oooh, maaf, saya kira anda yang membuatnya....
Karim A:(Masih gaya pidato)Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga.
Lumilumut:Hoeeekkk!!
(Memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan)
Karim A:(Berpose narsis)Saya memang tabib yang hebat. HUAHAHAHAHA...!!!
Lumilumut:Eh, kalu boleh tau, apa om yang tolong dan bawa saya ke sinii?
Karim A:Bukang! Bukang saya.
Lumilumut:Lalu, siapakah gerangan orang tersebut yang telah menolong saya?

Di depan pintu muncul Trotoar.
Trotoar:(Menunjuk dadanya)Itu aku!
Lumilumut:(histeris)Aaahh.. Suleeee...
Trotoar:Bukan! Aku bukan Sule!
Lumilumut:Lalu, siapa anda?
Trotoar:(PoseI’m Batman)!
Bukan!Aku adalah...(menari berkeliling gaya opera)Karim B!!!
Karim A:stoop! Nama saya karim A, masa nama mu Karim B. Cari nama lain lah Ga kreatip.
Trotoar:Baiklah!
Aku adalah...(menari berkeliling gaya opera)Michael jacson!!!
Karim A : rusak lah ini cerita kalau nama Michael jacson  ada di sejarah Minahasa.
Trotoar:Baiklah!Sebenarnya aku adalah...(menari berkeliling gaya opera)Tro... Toooooooar!

Karim A:Perkenalkan, ini Trotoar. Dialah yang menyelamatkanmu dan membawamu ke sini.
Lumilumut:Oh, terima kasih. Aku tak dapat membalas kebaikanmu.
Tiba-tiba terdengar suara tawa. Seorang perwira Kerajaan Utara bernama Opo masuk.
Opo:
Hahahahaha...
Trotoar:Siapa anda ?Dari mana dan mau apa?
Opo:Aku adalah...(menari berkeliling gaya opera)
Ooooo... pooooo...!!!
Dan aku adalah panglima dari Kerajaan Utara.
Kami mencari seorang gadis bernama Lumilumut. Kami tahu dia berada di sini.
Trotoar:Tidak ada nama Lumilumut di sini!
Lumilumut:saya yang bernama Lumilumut. Anda ada perlu apa?
Karim A:Iiiiihh...ketaun kan.
Opo:Anak buah! Seret wanita itu kemari!
Trotoar:Anak buah apaan? Orang kamu masuk sendiri . .?
Opo:Oh, iya saya lupa.Lumut! Kau harus ikut untuk menjadi istriku!
Trotoar:(Menghadang)Tunggu!Dia bukan Lumilumut!.Namanya adalah Wawu!
Opo:kau kira aku bodoh apa? Tadi saya lihat Wawu lagi bakar ikan di pantai.
Minggir! Atau kau akan menjadi mayat!
Trotoar:Baiklah!Silahkan. Ayo jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri.
(mempersilahkan para tentara (Opo sendiri) untuk menangkap Lumilumut)
Lumilumut:Ih, ih ih bagimana kamu ini, masa mau menyerahkan saya.
Trotoar:Kalau begitu kau harus melangkahi mayatku!
Opo:Rupanya kau punya nyali juga anak muda.
Sebutkan account Facebookmu biar aku tahu siapa yang kubunuh!
Trotoar:Cih, aku tak sudi menerima permintaan pertemanan dengan orang seperti kau!
Opo:Rupanya kau memang sudah bosan hidup! Bersiaplah menerima kematianmu!
(bersiap bertempur)
Trotoar:Tunggu!
Opo:Ada apa?
Trotoar:Update status dulu di FB hehehe.(mengambil HP dan update status)
Sedang bertarung dengan @Opo, panglima Kerajaan Utara.
Oke, klar!

Opo:Sekarang terimalah kematianmu!(bersiap menyerang)
Karim A:Tunggu!
(memanggil Trotoar dan Opo mendekat. Menjelaskan dengan gaya wasit tinju)
Dilarang memukul wajah, dilarang memukul di bawah perut, belakang kepala, kemaluan dan punggung.
Paham?
Okay, Fight!
(Trotoar dan Opo memasang kuda-kuda tempur)

Trotoar:Karim, cepat bawa Lumut pergi dari sini.
Karim A:Ayo kita pergi. Kau tunjukkan jalan.(Lumulumut segera membawa Karim pergi).
Opo:Sekarang tinggal kita berdua. Menyerahlah.
Trotoar:Tidak akan pernah!
Opo:Kalau begitu matilah!Hiaaat...(Opo menyerang Trotoar)
Trotoar:Tunggu!
Opo:aaah, bagimana kamu ini dari tadi tunggu-tunggu trus!
Trotoar:Aku kan pemeran utama, tidak mungkin beramin adegan berbahaya.
(berteriak memanggil pemeran pengganti)
Pemeran pengantiiiii...
(Pemeran pengganti masuk dan mengambil posisi tempur)
Opo:Ah, curang kau . Masa kamu pakai pemeran pengganti saya tidak pakai?
Trotoar:(menghibur Opo)jadi begituu po perbedaan antara pemeran utama dan pemeran jahat.
Opo:Sudah! Ayo selesaikan pertarungan ini!
(Adegan laga)
(Setelah pertarungan sengit, Opo berhasil menjatuhkan Pemeran Pengganti dan menodongnya)
Opo:Sekarang pergilah ke neraka!(bersiap membunuh pemeran pengganti)
Trotoar:Tunggu!
Opo:tidak skarang mau tunggu apa apa lagi?
Trotoar:Sabar... kan seakrang adegan berbahaya dah abis, jadi sekarang saya  yang main.
(Trotoar menggantikan posisi pemeran pengganti)
Opo:Sekarang pergilah kau ke neraka!(bersiap membunuh Trotoar)
Trotoar:Tunggu!
Opo:(berhenti, berkacak pinggang dengan sangat kesal, menarik napas panjang, geleng-geleng kepala)
Sabar sabar , ,(menenangkan dirinya)
sekaarang ada apa lagi? Bilang cepat .
Trotoar:Bagini, saya kan pemeran utama ni cirita. Kalu saya mati berarti tamat dong ni cirita.
Opo:jadi mesti bagai mana?
Trotoar:Yaaaa, berarti kamu yang harus mati. Bukan saya.
Opo:Ha? Memang musti bagitu ?
Trotoar:Yah, memang bagitu di naskah, mau bagimana lagi.
Opo:(pasrah)Silahkan pilih sesukamu ..
(Trotoar berdiri lalu membunuh Opo. Opo terkapar meregang nyawa)
Trotoar:Wahai panglima Kerajaan Utara. Kau memang hebat, tapi sayang, kemampuanmu tak dapat menandingi golok saktiku!
Opo:Huh mana ada orang saya ngalah.
Trotoar:Hahaha... akulah Trotoar, pendekar terhebat di tanah ini!
(Lumilumut dan Karim A masuk)
Lumilumut:Trotoar... untunglah kau selamat.
Trotoar:Lumut... sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggumu(Trotoar berlari ke sudut panggung, Trotoar ke sudut panggung yang satunya lagi)

(GAYA DRAMA MURAHAN ON)

Lumilumut:Oh... Trotoar...
Trotoar:Oh... Lumut...

(Dialog diulang-ulang selama Trotoar dan Lumilumut saling mendekat)

Trotoar:Oh Lumut... ada yang ingin aku katakan padamu...
Lumilumut:Katakanlah wahai Trotoar pahlawanku... katakanlah...
Trotoar:Sebenarnya... aku...
Lumilumut:Katakanlah... Katakan... jangan ragu...
Trotoar:Sebenarnya... aku... mencintai....
Lumilumut:Oh... aku juga mencintaimu . (bergerak memeluk Trotoar)
Trotoar:(menghindar dari pelukan Lumilumut)Karim A!
(Trotoar dan Karim A saling berpegangan tangan dengan mesra.)
Lumilumut:(menangis, kemudian mendekati mayat Opo, mengambil pedangnya)
(bersuara lirih)
Kalau memang tidak ada yang cinta saya, lebih baik saya mati!

(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan)
(senyap)
Lumilumut:(bersuara lebih keras)Kalau memang tidak ada yang cinta saya, lebih baik saya mati!
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan)
(senyap)

Lumilumut:(Berteriak keras)Woi, mo bunuh diri ini saya!

(Trotoar kaget dan bergegas mencegah Lumilumut bunuh diri, namun terlambat, Lumilumut terlanjur mati duluan)

Karim A:Mati dia?
Trotoar:Io
Karim:Yah rusak dah nih cerita.
Trotoar:Aduh,bagai mana ini kang?
Bisa bahaya,  cuma dia satu-satunya parampuan di tanah ini.
(Berteriak sambil menghadap langit)
bagaimana aku bias membangun pradabaaaaaaaaaaaaaaaaaaan...!

NARRATOR:
Demikianlah akhir dari cerita ini. Trotoar hidup berdua dengan Karim sampai saatnya Toar dan Lumimuut datang ke tanah ini dan membangun peradaban Minahasa.

0 komentar:

Poskan Komentar

pembaca yang baik tinggal kan komentar dan saran

Powered By Blogger

Template by:

Free Blog Templates